Tampilkan postingan dengan label serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serius. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2009

perjuangan paska kemerdekaan

MAKALAH

SEJARAH INDONESIA

Tentang

PERJUANGAN PASKA KEMERDEKAAN

Oleh

Rudiyanto 107.032

Delfia refniati 107.073

Dosen Pembimbing

DR. Danil M. Chaniago, M. Hum

JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM ( SKI )

FAKULTAS ILMU BUDAYA ADAB

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1429 H / 2009 M




PERJUANGAN PASCA KEMERDEKAAN

Sesuai dengan perjanjian Wina pada tahun 1942, bahwa negara-negara sekutu bersepakat untuk mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada pemilik koloninya masing-masing bila Jepang berhasil diusir dari daerah pendudukannya.

Menjelang akhir perang, tahun 1945, sebagian wilayah Indonesia telah dikuasai oleh tentara sekutu. Satuan tentara Australia telah mendaratkan pasukannya di Makasar dan Banjarmasin, sedangkan Balikpapan telah diduduki oleh Australia sebelum Jepang menyatakan menyerah kalah. Sementara Pulau Morotai dan Irian Barat bersama-sama dikuasai oleh satuan tentara Australia dan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Komando Kawasan Asia Barat Daya (South West Pacific Area Command/SWPAC).[1]

Setelah perang usai, tentara Australia bertanggung jawab terhadap Kalimantan dan Indonesia bagian Timur, Amerika Serikat menguasai Filipina dan tentara Inggris dalam bentuk komando SEAC (South East Asia Command) bertanggung jawab atas India, Burma, Srilanka, Malaya, Sumatra, Jawa dan Indocina. SEAC dengan panglima Lord Mountbatten sebagai Komando Tertinggi Sekutu di Asia Tenggara bertugas melucuti bala tentera Jepang dan mengurus pengembalian tawanan perang dan tawanan warga sipil sekutu

  1. PERJANJIAN LINGGARJATI

Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van Mook dalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khusus Inggris, Loard Killean. Bertempat di bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya sebagai berikut :

· Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat 1 Januari 1949,

· Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia

· Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.[2]

Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase.

Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres.

  1. AGRESI MILITER BELANDA I

DR H J Van Mook kepala Netherland Indies Civil Administration (NICA) yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda, dengan gigih memecah RI yang tinggal 3 pulau ini Bahkan sebelum naskah itu ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, *28 ia telah memaksa terwujudnya Negara Indonesia Timur, dengan presiden Sukowati, lewat Konferensi Denpasar tanggal 18 - 24 Desember 1946.

Pada bulan tanggal 25 Maret 1947 hasil perjanjian Linggarjati ditandatangani di Batavia. Partai Masyumi menentang hasil perjanjian tersebut, banyak unsur perjuang Republik Indonesia yang tak dapat menerima pemerintah Belanda merupakan kekuasaan berdaulat di seluruh Indonesia 29 Dengan seringnya pecah kekacauan, maka pada prakteknya perjanjian tersebut sangat sulit sekali untuk dilaksanakan.

Perdana Menteri Sjahrir menyatakan kesediaan untuk mengakui kedaulatan Belanda selama masa peralihan, tetapi menolak gendarmerie bersama. Jawaban ini mendapatkan reaksi keras dari kalangan parpol-parpol di Republik.

Ketika jawaban yang memuaskan tidak kunjung tiba, Belanda terus "mengembalikan ketertiban" dengan "tindakan kepolisian". Pada tanggal 20 Juli 1947 tengah malam (tepatnya 21 Juli 1947) mulailah pihak Belanda melancarkan 'aksi polisionil' mereka yang pertama.

Tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum agar supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini.

Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggajati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara Australia.[3]

Aksi Belanda ini sudah sangat diperhitungkan sekali dimana mereka telah menempatkan pasukan-pasukannya di tempat yang strategis. Pasukan yang bergerak dari Jakarta dan Bandung untuk menduduki Jawa Barat (tidak termasuk Banten), dan dari Surabaya untuk menduduki Madura dan Ujung Timur. Gerakan-gerakan pasukan yang lebih kecil mengamankan wilayah Semarang. Dengan demikian, Belanda menguasai semua pelabuhan perairan-dalam di Jawa Di Sumatera, perkebunan-perkebunan di sekitar Medan, instalasi- instalasi minyak dan batubara di sekitar Palembang, dan daerah Padang diamankan. Melihat aksi Belanda yang tidak mematuhi perjanjian Linggarjati membuat Sjahrir bingung dan putus asa, maka pada bulan Juli 1947 dengan terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri, karena sebelumnya dia sangat menyetujui tuntutan Belanda dalam menyelesaikan konflik antara pemerintah RI dengan Belanda.

Menghadapi aksi Belanda ini, bagi pasukan Republik hanya bisa bergerak mundur dalam kebingungan dan hanya menghancurkan apa yang dapat mereka hancurkan. Dan bagi Belanda, setelah melihat keberhasilan dalam aksi ini menimbulkan keinginan untuk melanjutkan aksinya kembali. Beberapa orang Belanda, termasuk van Mook, berkeinginan merebut Yogyakarta dan membentuk suatu pemerintahan Republik yang lebih lunak, tetapi pihak Amerika dan Inggris yang menjadi sekutunya tidak menyukai 'aksi polisional' tersebut serta menggiring Belanda untuk segera menghentikan penaklukan sepenuhnya terhadap Republik.

  1. PERJANJIAN RENVILLE

Sementara peperangan sedang berlangsung, Dewan Keamanan PBB, atas desakan Australia dan India, mengeluarkan perintah peletakan senjata tanggal 1 Agustus 1947, dan segera setelah itu mendirikan suatu Komisi Jasa-Jasa Baik, yang terdiri dari wakil-wakil Australia, Belgia dan Amerika Serikat, untuk menengahi perselisihan itu .

Tanggal 17 Januari 1948 berlangsung konferensi di atas kapal perang Amerika Serikat, Renville, ternyata menghasilkan persetujuan lain, yang bisa diterima oleh yang kedua belah pihak yang berselisih. Akan terjadi perdamaian yang mempersiapkan berdirinya zone demiliterisasi Indonesia Serikat akan didirikan, tetapi atas garis yang berbeda dari persetujuan Linggarjati, karena plebisit akan diadakan untuk menentukan apakah berbagai kelompok di pulau-pulau besar ingin bergabung dengan Republik atau beberapa bagian dari federasi yang direncanakan Kedaulatan Belanda akan tetap atas Indonesia sampai diserahkan pada Indonesia Serikat.

Pada tanggal 19 Januari ditandatangani persetujuan Renville Wilayah Republik selama masa peralihan sampai penyelesaian akhir dicapai, bahkan lebih terbatas lagi ketimbang persetujuan Linggarjati : hanya meliputi sebagian kecil Jawa Tengah (Jogja dan delapan Keresidenan) dan ujung barat pulau Jawa -Banten tetap daerah Republik Plebisit akan diselenggarakan untuk menentukan masa depan wilayah yang baru diperoleh Belanda lewat aksi militer. Perdana menteri Belanda menjelaskan mengapa persetujuan itu ditandatangani agar Belanda tidak "menimbulkan rasa benci Amerika".

Sedikit banyak, ini merupakan ulangan dari apa yang terjadi selama dan sesudah perundingan Linggarjati. Seperti melalui persetujuan Linggarjati, melalui perundingan Renville, Soekarno dan Hatta dijadikan lambang kemerdekaan Indonesia dan persatuan Yogyakarta hidup lebih lama, jantung Republik terus berdenyut. Ini kembali merupakan inti keuntungan Seperti sesudah persetujuan Linggarjati, pribadi lain yang jauh dari pusat kembali diidentifikasi dengan persetujuan -dulu Perdana Menteri Sjahrir, kini Perdana Menteri Amir- yang dianggap langsung bertanggung jawab jika sesuatu salah atau dianggap salah.

Perjanjian Renville tidak lebih baik daripada perundingan di Linggarjati. Kedua belah pihak menuduh masing-masing melanggar perdamaian, dan Indonesia menuduh Belanda mendirikan blokade dengan maksud memaksanya menyerah. Bulan Juli 1948, Komisi Jasa-jasa Baik, yang masih ada di tempat mengawasi pelaksanaan persetujuan itu, melaporkan bahwa Indonesia mengeluh akan gencatan senjata yang berulang-ulang.

  1. AGRESI MILITER II

Tanggal 6 Agustus 1948, Dr. Willem Drees dari Partij van de Arbeid (Partai Buruh), menjadi Perdana Menteri kabinet koalisi bersama Partai Katolik (Katholieke Volkspartij). Dia menggantikan Dr. L.J.M. Beel, yang kemudian diangkat menjadi Hooge Vertegenwoordiger van de Kroon (Wakil Tinggi Mahkota) Belanda di Indonesia.[4]

Sementara itu, Belanda konsisten dalam usaha memecah belah bangsa Indonesia dan mengadakan pendekatan kepada orang-orang Indonesia yang bersedia bekerja untuk Belanda. Di Jawa Timur, van der Plas mengganti pejabat-pejabat daerah, terutama para Bupati yang mendukung Republik dan digantikan oleh kakitangan Belanda. Setelah sebelumnya mengadakan “pembersihan” di daerah-daerah sekitar Bondowoso, tanggal 16

Dengan cara-cara seperti ini, Belanda merekayasa sehingga perundingan antara Belanda dan Indonesia yang berlangsung di Kaliurang, difasilitasi oleh KTN Komisi Tiga Negara), mengalami kebuntuan. Selain itu, Beel mengumumkan akan segera membentuk pemerintahan interim, yang dinamakannya Pemerintah Peralihan di Indonesia (Bewindvoering Indonesie in Overgangstijd –BIO), dan tanggal 11 Desember, Dr. Beel menyatakan bahwa Belanda tidak bersedia melanjutkan perundingan dan memaksa pimpinan Republik untuk menjadi anggota pemerintahan interim. Namun hal itu jelas mendapat penolakan dari para pemimpin Republik. Pada hari yang sama, pimpinan militer Republik menerima laporan, bahwa tentara Belanda sedang mengadakan konsentrasi besar-besaran di garis demarkasi.

Untuk mengantisipasi serangan Belanda, pimpinan TNI merencanakan akan mengadakan latihan perang pada 19 Desember 1948. Pada 11 Desember 1948 Belanda menyatakan tidak bersedia lagi melanjutkan perundingan dengan pihak Republik, dan pada 13 Desember 1948, Belanda mengumumkan berdirinya BIO yang rencananya hanya terdiri dari negara- negara boneka, yang tergabung dalam Bijeenkomst voor Federaale Overleg –BFO- (Musyawarah Negara Federal), tanpa ikutsertanya Republik Indonesia.

Agresi Militer II terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

  1. Perjanjian Roem Royen

Meskipun telah melakukan perundingan dengan Indonesia, Belanda terus melakukan pengepungan dan blockade. Belanda juga melanjutkan mendirikan negara- negara boneka, misalnya negara Pasundan ( 20 Februari 1948 ) dan negara Jawa Timur ( 16 November 1948 ). Selanjutnya, Belanda mengusulkan di bentuknya pemerintahan sementara ad interim. Oleh karena pemerintah Republik Indonesia tidak memberikan jawaban, Dr Beel sebagai pengganti Van MOOK merasa tidak terikat lagi oleh perjanjian RENVILLE dan melancarkan Agresi Militer ll pada tanggal 1948. Akhirnya, pihak Indonesia-Belanda mengadakan pendekatan sebagai kelanjutan dari Perjanjian Renville.

Setelah diadakan pembicaraan berulang kali di bawah pengawasan KTN, Indonesia dan Belanda kembali mengadakan perundingan . Indonesia diwakili oleh Mr. Muh. Roem dan Belanda diwakili oleh Dr. Van Royen. Naskah perundingan di tanda tangani pada 7 mei 1949. Isi pokoknya ialah kedua belah pihak setuju dan akan hadir dalam Konferensi Meja Bundar yang akan diselenggarakan di Den Haag, Belanda, pada tanggal 23 Agustus-2 November 1949.

Akibat dari Agresi Militer tersebut, pihak internasional melakukan tekanan kepada Belanda, terutama dari pihak Amerika Serikat yang mengancam akan menghentikan bantuannya kepada Belanda, akhirnya dengan terpaksa Belanda bersedia untuk kembali berunding dengan RI. Pada tanggal 7 Mei 1949, Republik Indonesia dan Belanda menyepakati Perjanjian Roem Royen.[5]

  1. Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dari 23 Agustus hingga 2 November 1949. Yang menghasilkan kesepakatan:

v Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat.

v Irian Barat akan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan.

v Penyerahan kedaulatan oleh Belanda

Penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) merupakan titik pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda dan berakhirnya periode perjuangan bersenjata untuk menegaskan dan mempertahankan kemerdekaan. Setelah persetujuan KMB tersebut, Pasukan Pemerintahan/TNI yang berada di sekitar kota diperintahkan untuk masuk ke Kota Yogyakarta termasuk Bagian Code yang sebelumnya bertempat di Dekso. Bagian Code menempati sebuah gedung sekolah di dekat Stadion Kridosono yang merupakan juga Markas PHB Angkatan Perang.[6]

Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949, selang empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Pengakuan ini dilakukan ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Di Belanda selama ini juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (Aksi Polisionil) pada 1945-1949 adalah ilegal.

DAFTAR PUSTAKA

Arezer, 2008. PERJANJIAN ROEM-ROYEN, Jakarta : arethere.wordpress.com/2008/12/25/perjanjian-roem-royen/.

Ranesi. 2007. 60 Tahun Agresi Milter Belanda I . Jakarta : www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/13098207

Sudarjanto. 2006. Agresi Militer Belanda Ii. Jakarta : sudarjanto.multiply.com/attachment/0/R8kINQoKCDMAAEANcJM1/Agressi%20Militer%20Belanda%20ke%20II%20da1.pdf?nmid=84289438.

Sandi. 2008. Koferensi Meja Bundar. Jogjakarta : sandi.math.web.id/?p=131,

Wikipedia, 2005. Agresi Militer Belanda I, Jakarta : id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I

Wikipedia, 2004. Sejarah Indonesia ( 1945-1949 ) Jakarta : id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I



[1] Wikipedia, sejarah Indonesia ( 1945-1949 M ), ( Jakarta : id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1945-1949) )

[2] Ibid

[3] Wikipedia, Agresi Militer Belanda I, (Jakarta id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I. )

[4]Sudarjanto. Agresi Militer Belanda II, ( Jakarta : images.sudarjanto.multiply.com/attachment/0/R8kINQoKCDMAAEANcJM1/Agressi%20Militer%20Belanda%20ke%20II%20da1.pdf?nmid=84289438)

[5] Arezer, PERJANJIAN ROEM-ROYEN, (Jakarta : arethere.wordpress.com/2008/12/25/perjanjian-roem-royen/ 2008)

[6] Sandi, Koferensi Meja Bundar. ( Jogjakarta : sandi.math.web.id/?p=131, 2008)

makalah filologi 1

Hubungan dan Kedudukan Filologi di antara Ilmu-Ilmu Lain

Filologi dengan ilmu lain, jika kita lihat dalam kajian filologi tampaknya ada suatu hubungan timbal balik dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Filologi dalam pengkajiannya tidak bisa terlepas dari ilmu-ilmu bantu lainnya, begitu juga dengan illmu-ilmu yang menjadikan naskah-naskah kuno sebagai sumber yang nominan dalam menentukan sebuah teorinya juga tidak bisa terlepas hubugannya dengan filologi.

A. Ilmu Bantu Filologi

Sebagaiman kita ketahui objek dari penelitian filologi ialah naskah yang berisikan teks-teks kunoyang merupakan karya dari pemikiran-pemikiran masyarakat zaman dahulu. Untuk mengethui pemikiran-pemikiran itu kita harus menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan teks tersebut. Penguasan bahasa teks tida terlepas dari pemahaman terhadap masyarakat penghasil karya tersebut. Dengan demikian, teks tersebut harus dilihat dari konteks masyarakat dan bangsa yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa dalam kajian filologi kita membutuhkan beberapa ilmu sebagai penunjang dan penguat dari penelitian filologi teresebut. Seorang ahli filolog harus menguasai kebudayaan, bahasa, dan pengetahguan dari masyarakat yang menghasilkan karya tersebut.

a. Lingguistik

Lingguistik merupakan suatu ilmu yang mempelajari bahsa yang berkembang dalam masyarakat dan perkembangannya. Karena bahasa teks sangat berbeda denagng bahasa sehari-hari masyarakat, maka seorang filolog harus menguasai lingguistik. Lingguistik pada mulanya merupakan bagian atau cabang ilmu dari filologi yang dipakai dalam metode penelitian filologi. Pada awal abad 20, lingguistik memisahkan diri dan menjadi salah satu disiplin ilmu yang berkembang di Eropa.

Dalam lingguistik, ada beberapa cabang ilmu yang dapat membantu dalam penelitian filologi, diantaranya sebagai berikut :

Etimologi : ilmu yang mempelajari asal-usul kata dan sejarah kata.

Sosiolingguistik : ilmu yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antar perilaku bahasa dangan perilaku masyarakat.

Stalistika : cabang ilmu yang mengamati gaya bahasa, ilmu ini di usahakan agar dapat menyelidiki keaslian naskah, dan menentukan usia naskah.

b. Pengetahuan Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks

Seorang filolog dalam penelitian naskah, ia harus paham bagaimana sebuah bahasa dapat mempengaruhi bahasa teks. Maksudnya dalam sebuah naskah terdapat beraneka ragam teks yang memiliki bahasa berbeda-beda, untuk itu para filolog harus mengenal atau mengetahui bahsa man yang telah menguasai isi nasakah tersebut. Pengetahuan bahasa ini dapat membantu filolog dalam memahami sebuah naskah.

c. Paleografi

Ilmu yang mempelajari tentang macam-macam tulisan kuno.[1] Filologi tidak hanya membahas tulisan yang berupa naskah, tetapi filologi juga membahas tulisan yang berada di benda-benda lainnya seperti makam, prasasti, dan uang logam. Dalam pengkajian filologi, seorang filolog di harus mengetahui dan mengerti akan macam-macam dan betuk tulisan kuno yang berkembang saat itu.

Paleografi biasanya bertujuan untuk :

* Mengalihbahasakan naskah bertulisan kuno, supaya dapat dibaca oleh masyarakat umum.

* Menerjemahkan tulisan kuno ke bahasa yang dapat orang memahaminya.

* Mengkronologikan dan mengelampokan benda-benda bersejarah pada tempatnya.

d. Ilmu Sastra

Naskah kuno yang berkembang di nusantara pada umunya berisi teks sastra, teks yang berisikan cerita rekaan. Untuk menkaji teks seperti itu diperlukan metode pendekata yang sesui dengan objeknya, yaitu metode pendekatan ilmu satra. [2]

Pendekatan ilmu sastra yang dipakai dalam pengkajian naskah-naskah yang berisikan teks sastra ialah :

* Pendekatan mimetik, pendekatan yang menonjolkan aspek referansil.

* Pendekatan pragmatik, pendekatan yang menojolkan penagruh karya sastra terhadap pembaca.

* Pendekatan ekspresif, pendekatan yang menonjolkan penulis karya sastra sebagai penciptanya.

* Pendekatan objektif, pendekatan memetingkan karya sastra sebagai struktur otonom, lepas dari latar belakang sejarahnya.

Selain empat dari pendekatan di atas, baru-baru ini ada satu lagi pendekatan yang dibahs oleh para sastrawan modern, pendekatan resptif, pendekatan ini menitikberatkan kepada tanggapan pembaca atau penikmat sastra ( secara umum ),

e. Pengetahuan tentang Agama

Selain naskah yang berisikan teks sastra, naskah-naskah lainnya yang berkembang di nusantara ialah naska yang berisikan teks agama ( Islam, Budha dan Hindu ). Untuk memahami teks-teks yang berbau keagamaan seorang filolog harus menguasai seluk beluk agama yang memiliki naskah tersebut. Dalam penelitiannya, filolog memakai metode pendekatan agama.

f. Sejarah Kebudayaan

Dalam pengkajian secara historis terhadap karya-karya lama diperlukan pengetahuan sejarah kebudayaan. Lewat sejarah kebudayaan dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan unsur budaya suatu bangsa. Kita mempelajari kebudayan suatu masyarakat untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman masyarakat pada waktu itu dalam menuliskan pemikirannya dalam sebuah karya tulisan ( naskah ).

g. Antropologi

Telah dijelaskan di muka bahwa penggarapan naskah tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat dan budaya yang melahirkannya. Untuk itu seorang filologdapat memnfaatkan hasil kajian atau metode antroplogi sebagai ilmu yang objek penyelidikanya manusia dari segi fisiknya, masyarakatnya dan kebudayaannya. Masalah yang bersangkutan dengan antropologi antara lain adanya sikap masyarakat dalam pemeliharaan naskah tersebut, apakah masyrakat menganggapnya sebagai benda kramat atau tidak .

Dalam perkembangan antroplogi, pada abad ke-20, folklor memisahkan diri dari cabang ilmu antroplogi. Folklor merupakan ilmu yang mempelajari tentang bahasa lisan dan upacara-upacara yang dianggap kramat oleh masyarakat. Bahasa lisan yang menjadi objek bagi folklor sangat membantu filolog dalam memahami dan mempelajari bahasa lisan suatu masyarakat.

B. Filologi sebagai Ilmu Bantu

Objek filologi adalah naskah-naskah yang mengandung teks sastra lama atau sastra tradisional. Filolog berkerja untuk memahami dan menelaah suatu naskah. Hasil telaah itu dapat di pergunakan untuk memahami perkembangan intelektualitas seseorang, adapt istiadat pada waktu itu dan bahkan dapat dipergunakan oleh ilmu-ilmu lain dalam mengkaji bidangnya masing-masing. Dalam pengertian penyajian teks, filologi bertindak sebagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang mempergunakanh naskah-naskah kuno sebagai objek kajiannya. Kiandungan dalam naskah lama itu beraneka ragam, jadi filologi membantu dalam mengelompokan sesuai dengan bidangnya. Ilmu-ilmu lain yang menjadikan filologi sebagai ilmu Bantu ialah ilmu sastra, ilmu sejarah, sejarah kebudayaan, ilmu hukum adat, ilmu agama, dan lain sebagainnya.

a. Filologi sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sastra

Begitu banyaknya jumlah teks yang bernuansa sastra dan besarnya kecenderungan untuk menanganinya maka dalam perjalanan sejarah, filologi pernah di pandang sebagai ilmu sastra. Bantuan filologi terhadap ilmu sastra terutama berupa penyediaan sutingan naskah lama dan hasil penelaahan teks yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra. Hasil kajian dari teks lama akan sangat berguna untuk penyusunan teori-teori ilmu satra yang betul-betul bersifat umum.

b. Filologi sebagai Ilmu Bantu Sejarah Kebudayaan

Filologi banyak mengungkapkan khazanah ruhaniah warisan nenek moyang, misalnya kepercayaan, adat istiadat, dan kesenian. Melalui pembacaan atau penelaahan naskah banyak dijumpai penyebutan / pemberitahuan unsur-unsur budaya sekarang yang telah punah. Dengan memperhatikan hasil-hasil penelitian filologi menganai khazanah kebudayaan masyarakat, kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan kebudayaan pada masyarakat itu.

c. Filologi sebagai Ilmu Bantu Sejarah

Naskah-naskah nusantara yang oleh pendukungnya di pandang berisi teks sejarah jumlahnya cukup banyak misalnya Negarakretagama, Pararaton, Babad tanah jawi, dan lain sebagainya. Naskah-naskah yang telah ditelaah oleh para filolog dapat di manfaatkan sebagiannya sebagai pengkajian sejarah nusantara. Selain itu, hasil-hasil kajian filologi yang telah di telaah dapat menjadi sumber primer dalam penelitian-penelitian sejarah berikutnya.

C. KESIMPULAN

Filologi dan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan naskah pasti memiliki hubungan timbal balik dan saling membutuhkan. Dalam kajian penelitian filologi, para filolog harus menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan teks yang akan di telaah. Dalam penelitian ilmu-ilmu lainnya, para ilmuwan juga harus menguasai filologi agar dapat mendapat sumber yang dekat dengan kebenaran.

Ilmu bantu yang di pakai oleh para filolog dalam penelitiannya ialah Ilmu Sejarah, Ilmu Sastra, Ilmu Budaya, Agama, Lingguistik, Paleografi, dan Antopologi. Filologi juga menjadi ilmu bantu dalam pengkajian sastra, sejarah, budaya, agama, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Baried, Siti Barorah dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta : PPPB.

Lubis, nabila. 1996. Naskah,Teks, dan Metode Penelitian Filologi. Jakarta : FKBSA Fak. Adab IAIN Syarif Hidayutullah.

Santoso, Ibnu. 2008. Ilmu Bantu Filologi. Yogyakarta : Ibnusantoso.Blogspot.Com.

Yudiara, Siti Zahara dan Mu’jizah. 2001. Filologi. Jakarta : PPUT.



[1] Siti Zahara Yudiara dan Mu’jizah, Filologi, ( Jakarta : PPUT, 2001), hal. 1.14

[2] Ibid., 1.17

Rabu, 11 Maret 2009

makalah kapitalisme dan marxisme

MAKALAH

SEJARAH DUNIA II

Tentang

KAPITALISME DAN MARXISME

Oleh

Mirza Erwan Kaflis 107.053

Desi Mila 107.049

Ratna Yuniza 107.074

Dosen Pembimbing

Abdul salam

Syafrilman

Herman

JURUSAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM ( SKI )

FAKULTAS ILMU BUDAYA ADAB

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG

1429 H / 2008 M



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara histories, perkembangan kapitalis memerupakan bagian dari gerakan Individualisme. Gerakan ini menimbulkan dampak dalam bidang yang lain, seperti dalam bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan alam, dalam bidang keagamaan lahir gerakan reformasi ( Protestan ).

Kapitalisme merupakan system perekonomian yang dipakai oleh Dunia Barat pada saat ini. Sedangkan Idiologi Marxisme lahir karena kurang setujunya para buruh atau masyarakat biasa terhadap Idiologi Kapitalisme yang memihak para bangsawan atau pemilik modal. Idiologi ini banyak dipakai oleh Negara-negara komunis, seperti Rusia, China, Dan Korea.

Mengapa Idiologi Kapitalisme dipakai di Dunia Barat sedangkan Idiologi Marxisme dipakai di Negara-negara Komunis, tentu ada sejarahanya.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, ada beberapa rumusan masalah yang pemakalah seleksi, diantaranya ialah :

* Bagaimana sejarah lahirnya Idiologi Kapitalisme dan Marxisme

* Siapa tokoh yang menglahirkan Idiologi ini

* Bagaimana pemikiran dari Idiologi ini

C. Tujuan Makalah

Setiap karya sastra pasti memeiliki tujuan penulisan, tidak terkecuali makalah ini. Makalah ini kami buat bertujuan untuk :

* Menjelaskan tentang seluk beluk idiologi Kapitalisme

* Menjelaskan tentang seluk beluk idiologi Marxisme

BAB II

KAPITALISME

A. Pengertian

Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun.[1]

Kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.

B. Sejarah lahirnya Faham Kapitalis

Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.

C. Adam Smith dan Idiologi Kapitalisme

Adam Smith lahir di kota Kirkaldy Skotlandia tahun 1732 M. Waktu remaj ia belajar di Universitas Oxford dan dari tahun 1751 sampai 1776, ia menjadi Profesor di Universitas Glasgow. [2]

Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang Merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.

Menurut cara berpikir yang dijadikan dasar berpijak kapitalisme, setiap individu – dan ini dapat berupa seseorang, sebuah perusahaan atau suatu bangsa – harus berjuang atau berperang hanya untuk kemajuan dan kepentingannya sendiri. Yang paling menentukan dalam peperangan ini adalah produksi. Para produsen yang paling unggul akan bertahan hidup, sedang yang lemah dan tidak mampu bersaing akan tersingkir dan mati. Inilah sistem yang sedang berlaku, dan seolah tidak ada kepedulian bahwa mereka yang tersingkirkan dalam perjuangan sengit ini, mereka yang terinjak-injak dan jatuh ke jurang kemiskinan adalah manusia. Sebaliknya yang justru dianggap lebih penting bukanlah manusia, akan tetapi pertumbuhan ekonomi, dan barang-barang, yakni produk dari pertumbuhan ekonomi ini. Dengan sebab ini, mentalitas kapitalis tidak merasakan adanya tanggung jawab moral atau hati nurani atas orang-orang yang terinjak di bawah kaki mereka, dan yang harus hidup dengan berbagai kesulitan. Ini adalah Darwinisme yang diterapkan secara menyeluruh pada masyarakat di bidang ekonomi[3]

Dengan menyatakan perlunya mendorong kompetisi di berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan memaklumkan tidak perlunya memberikan kesempatan atau bantuan bagi masyarakat yang lemah di sektor apapun, baik kesehatan maupun ekonomi, para perumus Darwinisme Sosial terkemuka telah meletakkan dukungan “filosofis” dan “ilmiah” bagi kapitalisme. Misalnya, menurut Tille, sosok terkemuka yang mewakili mentalitas kapitalis-Darwinis, menyatakan bahwa adalah kesalahan besar untuk mencegah kemiskinan dengan memberikan bantuan atau pertolongan bagi “kelas-kelas yang tersingkirkan”, sebab ini berarti ikut campur dalam proses seleksi alam yang mendorong berlangsungnya evolusi.[4]

BAB III

MARXISME

A. Pengertian

Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham Kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.

Dalam dunia materialisme mengatakan, dunia adalah materi. Segala fenomena yang ada di dunia ini terbagi atas materi dalam mosi pergerakan, atau dapat dikatakan pula bahwa dunia ini exis diluar jangkauan persepsi manusia, bergerak secara bebas dan independen. Sedangkan kerangka pemikiran adalah sebuah refleksi atau pantulan dunia materi di dalam otak, dan teori yang menentang materialisme adalah Idealisme.

B. Sejarah Lahir dan Berkembang paham Marxisme

Sebelum Marx, sejarah ditafsirkan dengan berbagai cara yang mempunyai kekhasannya masing-masing. Kelompok Agama menafsirkan sejarah sebagai penyelenggaraan kehendak Ilahi dan menganggap perkembangan manusia hanya satu bagian dari renacan Allah untuk alam semesta. Kelompok Politik berpandangan bahwa Kaisar, raja membuat undang-undang dan para serdadu sebagai kekuatan yang menentukan dalam sejarah.

Carlycle berpendapat bahwa pemimpin yang membentuk peristiwa, tetapi tidak salah juga bahwa peristiwa yang membentuk pemimpin. Menurut Higel sebagai penyebab untuk tumbuhnya proses sejarah ialah kondisi social, ekonomi, teknologi, dan militer masyarakat.

Analisis Marx tentang masyarakat dinyatakan dalam penafsiran ekonominya atas sejarah. Marx tidak mengklaim bahwa hanya factor ekonomi yang menciptakan sejarah, tetapi menyatakan factor ini yang terpenting untuk membangun suprastruktur kebudayaan, perundang-undangan, dan pemerintahan yang diperkuat pula oleh berbagai idiologi politik, sosial, keagamaan, kesus-sastraan, serta seni sejalan.[5]

Di tahun 1848 marx, mengambil peran di Jerman dalam revolusi perancis yang mengharapkan pada revolusi sosial. Dalam bukunya "communist manifesto" dipresentasikan sebagai analisis sejarah yang mengarah pada pembebasan kasta (tingkatan) dalam sosial masyarakat (class struggle). Dalam teorinya historical materialism suatu metode yang mencatat pada perkembangan dan perubahan yang terjadi pada sejarah peradaban manusia sesuai dengan perkembangan material ekonomi.[6]


C. Karl Marx dan Idiologinya

Karl marx, sosok pemikir barat yang lahir pada tahun 1818 merupakan keturunan Yahudi penganut christianity akan tetapi pada akhirnya menganut paham atheis (tidak bertuhan), yang dikarenakan faktor keluarga dan pergolakan sosial yang terjadi pada masa itu.

Konsep awal yang paling mendasar menurut karl marx adalah segala perubahan yang terjadi dalam sosial masyarakat disebabkan oleh struktur ekonomi pada sosial masyarakat tersebut. Sebuah ekonomi yang unggul akan membentuk pada sebuah agama, philosophy, politik yang akan mewarnai seluruh sosial masyarakat. Sistem perekonomian hanya akan berjalan pada titik sejarah peradaban manusia.

Marx menentang adanya sistem class struggle yang telah menjamur di masyarakat, dia menginginkan terbentuknya classless society yang berarti bahwasanya masyarakat tidak harus saling bertentangan diantara tingkatan yang ada dalam masyarakat tersebut. Marx lebih fokus dan menekankan pada titik sebab terjadinya penderitaan masyarakat terhadap pembagian tingkatan dan kelas sosial (suffering of the devision of society), sedangkan untuk meminimalis tingkatan sosial dan mengeksploitasi antara manusia dengan manusia dibutuhkan sebuah pemikiran yang logis dan sistematis demi terwujudnya sebuah perubahan dalam sosial.

Gagasan dan pemikiran Marx yang paling utama, harus mampu memahami asal dasar dan alasan dalam sosial, mampu mengeleminasi serta dapat mengaplikasikannya pada ilmu pengetahuan untuk menyerukan classless society sebagai solusi dari class struggle yang ada dalam masyarakat. Selanjutnya pendapat Marx dalam teori materialisme kemanusiaan mengatakan, manusia harus produktif di dalam menjalani hidupnya, dapat dirumuskan; model produksi mempunyai dua aspek besar yaitu forces of production dan yang kedua relation of production.[7]

Forces of Production merupakan alat, tenaga kerja, kekuatan, tehnik dan tradisi yang digunakan manusia dalam proses berproduksi. Itu berarti, seberapa besar tenaga kerja yang digunakan dalam memproduksi sebuah produk atau tehnik dan tradisi apa yang digunakan dalam berproduksi, sehingga mampu bersaing diantara masing-masing individu dalam memproduksi barang yang berharga. Dan Relation of Production merupakan relasi antara manusia terhadap obyek dalam memasuki organisasi dunia produktifikasi kehidupan.


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitlis sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin melenyapkannya, seperti komunisme dan Islam.

Menurut pandangan Islam, terdapat beberapa kesalahan pemikiran dan konsep (false consciousness) yang tidak dapat diterima dan tidak sesuai dengan pemikiran islam secara umum. Tuhan, secara menyeluruh Marx tidak mengakui adanya Tuhan, sedangkan tuhan merupakan power dan berperan paling dominan dalam sistem perubahan ini. Segala perubahan yang terjadi di dunia ini telah tertulis oleh Allah tuhan semesta alam, sedangkan Marx mengatakan relation of production atau factor of productin membawa pada perubahan dalam sejarah dan peradaban manusia bukan yang lain.

Marx melupakan peran penting agama, bahkan menolaknya dan mengatakan agama adalah opium (candu masyarakat) yang menekan manusia, ini merupakan kesalahan terbesar dalam teorinya yang tidak dapat diterima secara rasional, ia mempresentasikan bahwa agama hanyalah sebagai alat penekan untuk menekan dan dan memaksa para buruh kelas bawah.sehingga menurut dia, tidak diperlukannya agama untuk mengubah sistem dalam classless society. Pada kenyataanya classless society ini tidak akan pernah terwujud dalam sejarah.

Dilain pihak ada satu aspek positif pemikiran Marx dalam filsafat, kita tidak dapat mengubah suatu struktur sosial tanpa adanya susunan ekonomi dalam sosial tersebut. Merupakan suatu kesuksesan besar yang petut dibanggakan karena filsafat Karl marx telah diterima oleh berbagai negara seperti Cina dan Rusia yang intinya bertujuan pada pembebasan sosial dari pertentangan antar kalangan dan tingkatan dalam sosial. Beberapa personality yang berbeda dapat diambil dari ideologi Karl marx kemudian diimplementasikan dalam negara, membawa pada perubahan yang nyata. Washalallahu ala Muhammad

B. Kritik dan Saran

Sebagai sebuah hasil karya manusia, Makalah ini pastilah tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan, baik yang sengaja maupun yang tidak di sengaja. Untuk itu kami pemakalah mengharapkan kritikan yang dapat membagun pemakalah supaya dapat membuat makalah yang lebih baik pada hari-hari berikutnya

Kami sebagai pemakalah menyarankan bagi pembaca, jangan hanya berhenti disini dalam membaca tulisan ini. Kami harapkan pembaca dapat mencari data yang lain yang berhubungan dengan Kapitalisme dan Marxisme.

DAFTAR PUSTAKA

Handayani, Anisatum Mutik, Marxisme ( Karl Max ), Bandung : Anesa.blogspot.com, 11 Nov 2008, 2008.

Herman dan M. Ilham, Titik Balik Peradaban Eropa, Padang : IAIN-Pres, 2006.

Maramis, Hariadi, Titik Noda Kapitalisme, Bandung : Hati-ITB.blogspot.com, 31 Des 2008, 2008.

Senel, Alaeddin, Irk ve Irkcilik Dusuncesi (The Idea of Race and Racism), Ankara: Belem ve Sanat Yayinlari, 1993.

Yahya, Harun, Kapitalisme dan Seleksi Alam di Bidang Ekonomi, Jakarta : Harunyahya.com, 11 Nov 2008, 2008.



[1] Harun Yahya, Kapitalisme dan Seleksi Alam di Bidang Ekonomi, ( Jakarta : Harunyahya.com, 11 Nov 2008 ).

[2] Herman dan M. Ilham, Titik Balik Peradaban Eropa, ( Padang : IAIN-Pres, 2006 ), H. 93.

[3] Harun Yahya, Loc, Cit.

[4] Alaeddin Senel, Irk ve Irkcilik Dusuncesi (The Idea of Race and Racism), ( Ankara: Belem ve Sanat Yayinlari, 1993 ), hal. 61.

[5] Herman dan M. Ilham, Op, Cit. H. 108-109.

[6] Anisatum Mutik Handayani, Marxisme ( Karl Max ), ( Bandung : Anesa.blogspot.com, 11 Nov 2008 ).

[7] Ibid